Bagaimana Cara Menjadi Guru Penggerak Pembelajaran Daring dan Luring di Masa Pandemi Melalui Teknologi

Andakah guru penggerak pembelajaran daring dan luring di masa pandemi? Ataukah, Anda menjadi gurunya guru guru penggerak pembelajaran daring dan luring di masa pandemi? Ataukah juga, Anda menjadi guru dan gurunya guru penggerak pembelajaran daring dan luring sebelum, selama, dan setelah masa pandemi?

Sudah 8 (delapan) bulan hingga kini (Maret - Oktober 2020) prediksi masa pandemi yang juga tak kunjung usai, sejak Mendikbud mengeluarkan Surat Edaran tentang Pencegahan Corona Virus Disease (Covid-19) Pada Satuan Pendidikan Maret 2020 tepatnya tanggal 9 Maret 2020.

Sejak disiarkan kabar melalui Surat Edaran, sekolah-sekolah pun tutup dalam rangka pencegahan perkembangan dan penyebaran dan yang menjadi perbedaan adalah penetapan dimasing-masing Dinas Pendidikan Kabupaten atau Kota untuk meneruskan apa yang telah menjadi keputusan.

Hal ini menjadi vakum beberapa minggu disana-sini tanpa terkecuali khususnya warga sekolah baik guru dan peserta didik akan proses kegiatan pembelajaran demi menghindari kontak fisik langsung baik bersalaman, cium tangan, dan lain sebagainya hingga menunda kegiatan yang mengumpulkan banyak orang atau kegiatan di lingkungan luar satuan pendidikan.

Maret, April, dan seterusnya hingga kini Oktober 2020. Proses pembelajaran pun beralih, apalagi jika menelisik kebelakang Ujian Nasional Dibatalkan, pembatalan pelaksanaan Ujian Nasional tersebut berkenaan dengan penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19) yang semakin menyebar dan semakin meningkat waktu itu.

Baru kali ini kita mendengar ungkapan nyleneh dikalangan masyarakat sekitar dalam tanda kutip “Alumni Corona” dimasa pandemi bagi peserta didik yang akan mengikuti ujian nasional dan hingga dibatalkan. Teknisnya, terdapat 6 item penting yang disampaikan dalam Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19), antaralain: Ujian Nasional 2020, Proses Belajar dari Rumah, Ujian Sekolah Kelulusan, Kenaikan Kelas, Penerimaan Peserta Didik Baru, dan peruntukan Dana BOS.

Lantas!
Bagaimana dengan kondisi pembelajaran daring dan luring saat ini? Bagaimana dengan kondisi usia peserta didik yang berada di PAUD, TK, SD maupun SDLB? Apa peran kita ataukah Anda sebagai guru?

Bagi peserta didik usia jenjang SMP dan SMA terasa begitu mudah melaksanaan kegiatan pembelajaran daring dan luring, itupun bagi guru yang menguasai teknologi pembelajaran, tetapi bagaimana dengan kondisi usia peserta didik dibawahnya. Bisakah menerima pembelajaran daring secara maksimal atau luring. Pastinya ini yang menjadi polemik dan tantangan baru bagi guru.

Hambatan Menjadi Guru Penggerak Pembelajaran Daring dan Luring di Masa Pandemi Melalui Teknologi

Sebagai guru yang berada di jenjang PAUD, TK, SD maupun SDLB pasti akan merasa kesulitan, apalagi bagi guru yang kurang begitu memahami dan menguasai teknologi pembelajaran secara langsung (Online), karena bagi mereka cukup bertatap muka saja lebih mudah. Dalam tanda kutip, bagi yang belum menguasai.

“Ah, tatap muka saja, lha wong peserta didik kelas 6 (enam) cuma 5 murid saja kok Pak, apalagi kondisi ekonomi orangtua juga kurang mendukung”. Kata Suharno, Teman guru di SD Negeri Bantengputih yang sebentar lagi pensiun.

Kendala, gaptek, menjelang pensiun, kondisi, faktor ekonomi.
Inilah segelintir hambatan yang dihadapi sebagian guru saat ini di masa pandemi. Hambatan lain pastinya dari orangtua atau wali murid peserta didik jika dilihat dari segi faktor ekonomi dan kondisi yang berada di desa dan pelosok. Belum tentu juga hambatan ini juga dihadapi oleh guru-guru lain yang berada di lingkungan dan kondisi yang berbeda. Ataukah sama?.

Bagaimana Cara Menjadi Guru Penggerak Pembelajaran Daring dan Luring di Masa Pandemi Melalui Teknologi

Gurunya Guru Penggerak Pembelajaran Daring dan Luring

Jika boleh dan berkenan, saya ingin memberikan ungkapan dan sandangan “Gurunya Guru Penggerak Pembelajaran Daring dan Luring” kepada Wijaya Kusumah S.Pd, M.Pd dan Sjamsul Hadi.

Kedua tokoh ini sama-sama pengurus PGRI, yang membedakan adalah letak dan porsi kewilayahannya saja. Wijaya Kusumah S.Pd, M.Pd selaku Pengurus Pusat PGRI yang berada di Jakarta dan Sjamsul Hadi adalah Pengurus PGRI Provinsi Jawa Timur.

Mengapa saya pribadi memberikan ungkapan “Gurunya Guru Penggerak Pembelajaran Daring dan Luring”, apa alasannya?

https://wijayalabs.com/about/
Siapa yang tak kenal Wijaya Kusumah S.Pd, M.Pd. Sebut saja sapaan akrabnya Om Jay (Simak profil: https://wijayalabs.com/about/) selaku Guru Blogger Indonesia dan menjadi salah satu pendiri https://www.gurupenggerakindonesia.com/ merupakan salah satu tokoh pemicu dan pemacu Anggota PGRI yang aktif mengajak dan menggagas ide-ide kreatif agar anggota PGRI selalu berinovasi biar tidak terlindas dan tergilas oleh teknologi agar selalu ada di dunia maya maupun nyata.

Apalagi jika PGRI tingkat pusat atau provinsi mengundang Prof. Dr. Ir. Richardius Eko Indrajit, M.Sc., M.B.A menjadi pembicara, rasanya ingin sekali selalu hadir dan ikut dibuatnya.

Fakta, Wijaya Kusumah S.Pd, M.Pd!
Jauh sebelum dan digulirkannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), PGRI tingkat pusat sering melaksanakan diklat, workshop, bimtek dan lain sebagainya melalui tatap muka maupun maya dan peserta yang ikut dari Sabang sampai Merauke. Penyampaian informasi kegiatan tersebut disampaikan melalui media maya berupa web (Guru Penggerak Indonesia), group facebook (https://www.facebook.com/groups/gurublogger/) dan group WhatsApp melalui Sekjen Komunitas TIK dan KKPI (KOGTIK) dan Ikatan Guru TIK PGRI dan sebagai salah satu panitia utama dan pembicara adalah Wijaya Kusumah S.Pd, M.Pd.

Di masa pandemi, inovasi-inovasi kegiatan yang mengedukasikan guru untuk belajar teknologi pembelajaran dialihkan oleh Om Jay secara online melalui meet, zoom, webinar agar seluruh guru dari Sabang sampai Merauke dapat menjadi pengiring dan pemfilter teknologi baik sekolah maupun peserta didik sewaktu memberikan materi belajar mengajar, 

Fakta, Sjamsul Hadi!
Saya pribadi sebagai salah satu guru dan Anggota PGRI yang berada di wilayah Lamongan Jawa Timur. Tokoh yang satu ini, nama lengkapnya Sjamsul Hadi, sebut saja Abah Sjamsul yang juga menjadi salah satu Pengurus PGRI Provinsi Jawa Timur.

Beliau juga menjadi penggagas dan penggiat kegiatan bimtek, diklat, workshop dengan menggandeng beberapa tokoh-tokoh penting lainnya seperti Ketua PGRI Provinsi Jawa Timur, Penggerak Literasi, Ketua Pengembang Profesi, Dosen, Rektor, Direktur Pasca Sarjana dan masih banyak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu dengan tujuan agar guru-guru dari mulai pelosok Jawa Timur ujung barat hingga ujung timur bahkan guru yang menyeberangi jembatan Suramadu juga turut selalu aktif, kreatif, dan berinovasi baik sebelum dan adanya pandemi atau masa setelah pandemi saat ini.

Di masa pandemi saat ini, guru-guru yang mengikuti bimtek, diklat, workshop dituntut wajib melek teknologi. Kata Abah Sjamsul saat menjadi moderator kegiatan “Literasi Media Belajar Menjadi Penulis” yang saya ikuti secara live melalui zoom dari tanggal 12 sampai dengan 16 Oktober 2020.

Guru dapat selalu hadir dan ada melalui tulisan, baik di dunia maya maupun nyata, entah itu melalui web maupun buku, koran. Katanya.

Kedua tokoh ini (Om Jay dan Abah Sjamsul) saya pribadi menilai memiliki tujuan yang sama dalam berorganisasi guru tetapi cara mengemasnya saja yang menjadi pembeda, untuk menggiring seluruh guru menjadi guru penggerak seiring dengan era masa zamannya.

Menjadi Guru Penggerak Pembelajaran Daring dan Luring Melalui Teknologi

Terasa sudah 8 (delapan) bulan berlalu masa pandemi ini melintas dan patut kita tengok kebelakang selama delapan bulan itu. Teknologi apa yang sudah kita gunakan dalam pembelajaran daring dan luring.

Pantaskah kita bertanya dalam diri pribadi sebagai guru. Siapakah Guru Penggerak Pembelajaran Daring dan Luring di Masa Pandemi Melalui Teknologi? Sudahkah kita menjadi Guru Penggerak Pembelajaran Daring dan Luring di Masa Pandemi Melalui Teknologi? Teknologi apa saja yang Anda gunakan dalam proses pembelajaran Daring dan Luring di Masa Pandemi Melalui Teknologi?

Siapakah Guru Penggerak Pembelajaran Daring dan Luring di Masa Pandemi Melalui Teknologi?

Menurut saya pribadi, Guru Penggerak Pembelajaran Daring dan Luring di Masa Pandemi Melalui Teknologi adalah seorang guru yang mampu dan mau belajar mengemas pembelajaran sesuai kemampuan teknologi yang di kuasai dan mau berbagi pengetahuan dengan guru lain serta memotivasi guru yang belum mampu agar dapat diterapkan kepada peserta didik serta orangtua atau wali murid melihat kondisi dan keadaan agar menjadi semakin menyenangkan.

Bagi guru penggerak yang memiliki kemampuan dan menguasai teknologi pembelajaran akan terasa mudah saja, tetapi bagaimana dengan yang belum menguasai dan terbata-bata.

Kendala!
Kendala pasti ada utamanya dalam kondisi pembelajaran jarak jauh (daring atau luring) seperti saat ini, jangan sampai kendala itu dimulai dari guru itu sendiri. Maka putus sudah perkara.

Sudahkah kita menjadi Guru Penggerak Pembelajaran Daring dan Luring di Masa Pandemi Melalui Teknologi?

Inklusif memang jika melihat kondisi dan keadaan lingkungan sekitar kita, berkaca dari kemampuan guru, faktor usia, tempat mengajar berbeda, tetapi jika mau belajar, berusaha, dan berani menggugah diri untuk terus menggali kemampuan dan mempelajari teknologi meski itu menjadi guru Self Learner atau Community Learner untuk diri sendiri atau dengan menjalin komunitas pastinya Menjadi Guru Kreatif Untuk Selalu Aktif Sesuai Profesi tidak akan merasa kesulitan dan nantinya mampu menerapkannya kepada peserta didik.

Konteks Pembelajaran Daring dan Luring di Masa Pandemi Melalui Teknologi yaitu dengan merubah tujuan belajar, dan pengalaman belajar peserta didik. Maka pertimbangan yang paling mendasar adalah pemilihan teknologi dan media pembelajaran.

Pemilihan teknologi dan media pembelajaran yang dipergunakan diharapkan dapat mengubah pola pembelajaran, dari: (a) Pola pembelajaran siswa pasif menjadi pola pembelajaran siswa aktif, (b) Pola pembelajaran satu arah menjadi pola pembelajaran yang interaktif, (c) Pola pembelajaran terisolasi – tekstual menjadi pola pembelajaran jejaring – kontekstual, dan (d) Pola pembelajaran tanpa melibatkan orangtua menjadi pola pembelajaran dengan melibatkan orangtua.

Dari sini kita patut bertanya pada diri sendiri: Sudahkah kita menjadi Guru Penggerak Pembelajaran Daring dan Luring di Masa Pandemi Melalui Teknologi? Jawabannya ada pada diri pribadi masing-masing.

Teknologi apa saja yang Anda gunakan dalam proses pembelajaran Daring dan Luring di Masa Pandemi Melalui Teknologi?

Sebagai guru, saya pribadi akan menjawab, yaitu: teknologi yang saya kuasai (Zoom Meetings, Google Classroom, Kahoot, Quizizz, Candy CBT) dan sesuai dengan kondisi peserta didik, orangtua dan atau wali murid.

Tentu pertanyaan diatas akan mendapat jawaban yang berbeda-beda dari Bapak atau Ibu guru sekalian mengingat kemampuan, kondisi, faktor ekonomi orangtua atau wali murid, dan tentu saja faktor lingkungan yang dihadapi.

Lalu!
Bagaimana Menjadi Guru Penggerak Pembelajaran Daring dan Luring di Masa Pandemi bagi guru yang belum menguasai dan menggunakan teknologi?

Bapak atau ibu guru jangan berkecil hati bagi yang belum menguasai, cukup dengan menggugah diri dan menggali kemampuan untuk terus belajar dan mempelajari serta mengetahui Tips Belajar Bapak atau Ibu Guru Dalam Menyukseskan Pembelajaran Daring Maupun Luring dan Memilih Media Teknologi Sesuai Kemampuan.

Setelah bapak atau ibu guru terlebih dahulu belajar dan mempelajari teknologi apa yang sesuai bagi diri pribadi sesuai kemampuan, maka tahap selanjutnya yaitu cara menjadi guru penggerak pembelajaran daring dan luring melalui teknologi menjadi semakin menyenangkan kepada peserta didik dan orang tua baik di sekolah dan di rumah.

Cara Menjadi Guru Penggerak Pembelajaran Daring dan Luring di Masa Pandemi Melalui Teknologi

Cara untuk menjadi Guru Penggerak Pembelajaran Daring dan Luring di Masa Pandemi Melalui Teknologi agar menyenangkan yaitu, guru harus:
  1. Mengetahui tujuan, prinsip dan pembelajaran jarak jauh
    Senantiasa berusaha mencari solusi terbaik yang tidak membebani peserta didik, guru dan orangtua sehingga dapat memberikan pengalaman belajar jarak jauh yang bermakna agar tujuan, prinsip dan pembelajaran jarak jauh dapat terlaksana semaksimal mungkin sesuai dengan kondisi.
  2. Menggugah diri pribadi untuk belajar teknologi
    Untuk menguasai teknologi pembelajaran daring dan luring, guru bisa menjadi Self Learner atau Community Learner. Belajar melalui diri sendiri dengan media internet atau belajar secara bersama-sama dengan guru lain atau dengan menjalin komunitas.
  3. Menguasai teknologi pembelajaran terlebih dahulu
    Guru memilih dan berusaha menguasai teknologi pembelajaran daring dan luring yang tepat untuk digunakan sesuai usia peserta didik serta melihat kondisi lingkungan yang dialami. Setelah menguasai, barulah peran guru untuk merancang pembelajaran.
  4. Merancang Pembelajaran
    Pembelajaran jarak jauh baik secara daring maupun luring membuat kita mengerti bahwa proses belajar tidak dapat sepenuhnya bertumpu dan dikendalikan sepenuhnya oleh guru. Maka dari itu, guru juga perlu merancang pembelajaran jarak jauh daring maupun luring yang bermakna.
    Bermakna secara konteks dan konten mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan dan melibatkan peserta didik, orangtua maupun komunitas dengan kehidupan peserta didik, antaralain: Memanusiakan hubungan, Memahami konsep, Membangun keberlanjutan, Memilih tantangan dan Memberdayakan konteks.
  5. Pelibatan orangtua
    Sebelum pandemi, situasi pembelajaran lebih banyak berfokus pada peran guru, tetapi dengan adanya situasi saat ini situasi pembelajaran mulai beralih pada situasi dimana orang tua dan guru saling berbagi peran dalam memfasilitasi pembelajaran peserta didik.
  6. Menginformasikan dan membuat kesepakatan dengan orangtua
    Sebelum memulai kegiatan pembelajaran daring dan luring, hal pertama terlebih dahulu yang harus dilakukan adalah guru menginformasikan pembelajaran di masa pandemi kepada seluruh orangtua atau wali peserta didik.
    Menginformasikan tentang gejala, bahaya, dan akibat yang ditimbulkan Covid-19 hingga penyampaian informasi sesuai dengan edaran, kebijakan, keputusan kedinasan setempat serta kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan nantinya.
    Setelah informasi disampaikan kepada peserta seluruh orang tua atau wali peserta didik, tahap selanjutnya adalah membuat kesepakatan pembelajaran baik daring maupun luring baik di sekolah maupun di rumah.
    Apakah pelaksanaan pembelajaran melalui daring penuh, luring penuh, atau kombinasi. Tahapan diatas diambil sesuai dengan kesepakatan serta melihat kondisi lingkungan dan memahami dan mengetahui protokoler kesehatan yang disampaikan.
    Tak pelak, keputusan ini pasti akan menimbulkan berbagai polemik sesuai kemampuan orang tua. Dari segi sisi kebutuhan dan faktor ekonomi menjadi salah satu kendala daring atau luring.
    Di wilayah pedesaan, kebutuhan dan kemampuan akan ekonomi masing-masing orang tua berbeda antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu, pengambilan kesepakatan menjadi awal penentu suksesnya pembelajaran daring dan luring.
  7. Membagi kelompok kelas Daring - Luring – Kombinasi
    Bagi orang tua yang mampu mencukupi kebutuhan anaknya (handphone, tab, paket data) pastinya akan siap mengikuti kelompok kelas daring, lain halnya dengan orang tua yang kurang mampu mencukupi kebutuhan, pasti akan memilih kegiatan kelompok kelas luring, lantas bagaimana dengan kondisi orang tua yang ketika pagi bekerja dan sore hari bisa menggunakan handphone, tab, paket data? Pastinya akan memilih kelompok kelas kombinasi (daring dan luring).
  8. Membuat group kelas melalui WhatsApp
    Informasi telah disampaikan, kesepakatan telah dibuat, maka langkah selanjutnya adalah membuat group kelas melalui WhatsApp dan atau lain sebagainya.
    Apakah ini masih menjadi kendala? Pastinya iya jika melihat kondisi kebutuhan, kemampuan, dan faktor ekonomi orang tua atau wali peserta didik.
    Apa solusi yang pantas untuk diambil? Sebagaimana diatas, solusinya adalah membagi kelompok kelas sesuai dengan kondisi dan keadaan peserta didik dan orangtua. 
  9. Memberikan Panduan Pembelajaran Daring dan Luring
    Pemberian panduan pembelajaran daring dan luring ini diberikan kepada orang tua sebagai gambaran agar pelaksanaan pembelajaran dapat dilaksanakan oleh peserta didik baik di sekolah dan dirumah secara maksimal.

Sudahkah kita menjadi guru penggerak pembelajaran daring dan luring di masa pandemi melalui teknologi menjadi semakin menyenangkan?

https://www.gurudikdaslamongan.id/p/tentang-saya.htmlProfil Penulis
Diyan Shodik Nurhadi H, S.Pd
Guru SD Negeri Bantengputih
Kecamatan Karanggeneng
Kabupaten Lamongan – Provinsi Jawa Timur

Simak selengkapnya tentang profil penulis di: “Tentang saya”.

Mari kita menjadi guru penggerak pembelajaran daring dan luring di masa pandemi melalui teknologi menjadi semakin menyenangkan, kita songsong Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda untuk selalu berinovasi, berkreasi dan berkarya sebagai pengiring dan pemfilter peserta didik sesuai era dan zamannya agar kita selalu ada di dunia maya maupun nyata.
#PGRI
#KOGTIK
#EPSON
#KSGN

Post a Comment

6 Comments

  1. Terimakasih, sangat menginspirasi kami

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Om, meski masih ada hambatan sana sini sesuai dengan kondisi tatpi tetep harus berinovasi dan berkreasi.

      Delete
  2. Istimewa banget, artikel yang sarat dengan informasi khususnya bagi guru yang menjadi guru penggerak, atau gurunya guru penggerak, dan juga guru yang masih berkutat dengan banyak kendala dengan pembelajaran daring vs luring di masa pandemi

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar dengan bahasa yang baik dan sopan. Komentar yang bersifat spam dan mengandung sara, mohon maaf akan kami hapus.